Review Movie : World War Z (2013)



 


 “World War Z” bisa dikatakan film terbaik bagi mereka yang menyebut dirinya zombie-enthusiast, termasuk saya juga sebenarnnya  yang sudah usang menunggu-nunggu film yang disutradarai sang Marc Forster (Quantum of Solace, The Kite Runner) ini walau menjelang rilisnya saya berusaha buat tidak tergoda dan ekspektasi pun dijaga supaya tidak merusak kesan saya terhadap film ini , saya hanya tidak ingin kecewa. 

Diadaptasi dari  novel yang berjudul sama karangan Max Brooks, orang yang sama pula yang menulis Novel terbaik untuk pecinta zombie “The Zombie Survival Guide”, “World War Z” memang tidak akan terlalu setia dengan materi novelnya, well saya  kemudian akan memaklumi kapasitasnya menjadi film yg ingin mengkomersialkan film zombie, aku  tidak akan banyak ngomel jika “World War Z” tetap berada di jalur yg saya inginkan, setidaknya menciptakan film zombie yang ada “zombienya” misalnya , tidak seperti seri-seri akhir “Resident Evil” yg makin keblinger itu. “World War Z” untungnya dibentuk detail dari segi visual dan plot, bahkan melampaui bayangan saya saat menonton trailer-nya yg memberitahukan sekumpulan zombie layaknya semut tentara yang sedang lapar. Melihat zombie lari (lebih ke jalan cepat) buat pertama kalinya pada “The Return of the Living Dead” dan beneran lari pada “Dawn of the Dead” & seri “28” itu saja sudah mengerikan, “World War Z” punya level mengerikan yg lebih baru.

Sekuel Film World War Z Dibatalkan!

Jadi, tentang apa sebenarnya “World War Z”? Well, singkatnya seluruh orang jadi zombie bringas, disebabkan semacam virus yang penyebarannya setingkat cepatnya dengan Hoax yang menjamur di medsos. Yah, setelah tergigit, si korban yg sudah terinfeksi akan berubah jadi mayat hidup pada jangka waktu hanya 12 dtk. Hasilnya tentu saja kekacauan yg meng-dunia, kematian dimana-mana, populasi zombie yang semakin tinggi drastis, semua global dilanda kepanikan, Amerika dan negara-negara akbar di dunia lumpuh, ini yg dinamakan zombie-apocalypse sesungguhnya. Ketika harapan tampak tidak ada, Gerry Lane (Brad Pitt), seseorang pensiunan “agen” PBB yg sudah terlibat & berpengalaman dalam banyak situasi pelik pada medan-medan pertarungan, ditugasi balik  bersama tim untuk menyelidiki asal-muasal virus dan mencari vaksin. Nasib umat manusia sekarang berada di tangan Gerry Lane. .


Marc Forster tampaknya mengerjakannya dengan sangat baik, mungkin dia nonton banyak film zombie terlebih dahulu sebelum membuatnnya, itu terlihat berdasarkan beberapa referensi film-film zombie yang mensugesti cara beliau mengesekusi “World War Z”. Opening-nya yg lebih dahulu menghadirkan credit title sequence yg asyik, lalu tak ubahnya misalnya saya menonton “Dawn of the Dead”-nya Zack Snyder, akan tetapi tentu saja skala outbreak dan chaos yang besar -besaran, budget yang katanya sih hampir sampai 200 juta dolar—entah berapa juta buat CGI-nya dan segala tetek bengek visual imbas, benar-benar dihabiskan untuk membuat momen “day one” yg epik. Sebuah citra outbreak yg umumnya di film-film zombie sebelumnya hanya menyisakan “sampah-sampahnya”, tahu-memahami sudah berantakan dimana-mana (ini tentu terdapat hubungannya dengan budget). Film zombie yang diperlakukan layaknya film disaster berbudget besar , “World War Z” sanggup dibilang “2012”-nya film zombie tapi menggunakan cerita yg jauh lebih baik, seperti “Independence Day” tapi tidak menggunakan invasi alien melainkan mayat hidup, misalnya gelombang akbar tsunami “The Day After Tomorrow” digantikan oleh tsunami zombie . “War of The Worlds” tapi bukan melawan mesin-mesin alien yg mampu menghancurkan insan jadi debu sekali tembak, melainkan perang melawan zombie yg mampu mengubah insan jadi anjing gila dalam sekali gigit. Semua film disaster itu dilebur jadi sebuah film zombie yg benar-benar selama ini saya idam-idamkan, zombie-apocalypse dalam skala epik.

“World War Z” tentu saja tidak mengandalkan pengaruh outbreak gila-gilaannya & kekacauannya yg dibungkus oleh CGI buat menarik perhatian saya, skripnya yg ditulis oleh Matthew Michael Carnahan (State of Play)—lalu kemudian sang Drew Goddard (The Cabin in The Woods, Cloverfield) & Damon Lindelof (Star Trek Into Darkness, Prometheus) dipoles dalam bagian third act-nya—dibumbui jua dengan pakem-pakem oldskul & modern yang harus ada di film zombie.

Film ini sanagat di rekomendasikan untuk kalian yang sangat zombie-enthusiast. dimana film ini menyuguhkan kehanagatan keluarga dan aksi survival khas dari film zombie dengan plot yang menarik.

إرسال تعليق

أحدث أقدم